ARTIKEL
BANGKRUTNYA PT. TANAH SURGA
Oleh : Edhie Irwan
Letak kantor pusat perusahaan ini berada di kawasan segi tiga emas Jakarta,
tempat yang sangat strategis dan bergengsi untuk sebuah perusahaan.
Nama perusahaan terlihat megah dengan huruf besar-besar bertuliskan “PT. Tanah Surga” yang dipasang disebuah gedung pencakar langit. Perusahaan ini memiliki 30 unit usaha walaupun satu diantaranya telah dijual oleh bos sebelumnya. Disebelah kiri nama perusahaan tergambar logo perusahaan, burung garuda yang sedang mencengkeram tulisan “Bhineka Tunggal Ika” sambil menghiba dan menggigit jari. Nama perusahaan memang Tanah Surga, tapi keadaannya sangat gersang, bahkan tiap harinya hanya ‘menghitung hutang’. Ketiga puluh unit usahanya sudah kacau balau.
Posisi keuangan perusahaan bisa membuat para pemegang saham menangis tersedu-sedu, kas bergerak dan dana operasioanal nihil tidak bersisa, karena uang terus-menerus disulap pindah ke rekening pribadi. Deposito dolar pas-pasan. Piutang besar dibawa kabur keluar negeri dengan meninggalkan barang jaminan bergudang-gudang, yang semuanya rongsokan dan harganya tinggal seperempat dari yang sebenarnya.
Utang bejibun, sepuluh turunan barangkali tidak bakalan lunas, kecuali kalau besok tiba-tiba kiamat. Beruntung masih punya harta tetap warisan nenek moyang turun temurun berupa tanah, laut dan udara yang berharga, itupun sudah dijaminkan. Pendapatan perusahaan terus merosot. Biaya masih tetap tinggi bahkan meningkat karena KKN tetap merajalela, termasuk KKN yang dilakukan bos sendiri. Mencari uang untuk bayar gaji tiap bulanpun selalu repot, akan tetapi Presdir beserta jajaran manajemen tetap cuek. Selama masih ada yang bisa ngutangin kenapa harus pusing, warisan nenek moyang masih cukup jadi jaminan. Tinggal menugaskan Direktur Keuangan mencari utang baru.
Bekerja di perusahaan PT. Tanah Surga yang utama hanya bisa bikin bos senang, kemampuan nomor tujuh belas yang terpenting “menyanjung dan membuat bos senang” setiap hari. Makanya bukan hal yang aneh bila kita lihat seorang office boy dalam waktu seminggu bisa menjadi komisaris, walaupun dirapat komisaris hanya bisa berantam, tidur dan menambah fasilitas. Yang benar disingkirkan, yang salah dipertahankan. Itulah yang berlaku di PT. Tanah Surga ini.
Pernah Direktur Keuangan mengatakan kepada “bos” bahwa hutang perusahaan sudah sangat besar dan bagaimana cara membayarnya, laporan itupun disampaikan sang direktur sambil memijit-mijit kaki bos, takut jangan-jangan nanti dipecat. Bos hanya menjawab kalem, “kita kan cuma pinjam dan pakai uang, yang bayar bagian pengganti kita, bukan kita”. Perbanyak pajak untuk semua sektor dan naikkan suku bunga. Direktur Marketing juga dipanggil dan ditugasi segera menjual barang-barang jaminan, karena kalau dijual nanti, malah orang lain yang dapat uangnya. Apa saja yang bisa dijual harus dijual, kalau ada yang nawar pelataran parkir yang ada didepan kantor pun dijual.
Suatu hari Direktur Produksi datang dan melapor dengan muka pucat dan perasaan yang teramat takut, “bos”, semua unit usaha tidak bisa jalan karena tidak ada suplier yang percaya untuk pembelian dengan cara utang. Masyarakat kekurangan bahan kebutuhan pokok. Dengan enteng bos kasih perintah “begitu saja kok repot, impor saja semua, pakai duit utangan. Jangan lupa tambahin 20 persen, sekalian saya titip impor Ferrari & Limousin terbaru”.
Maklum buat bos mobil itu kayak pakaian, kalo pakai baju merah, mobilnya harus warna merah, kalo pakai baju biru mobilnya harus warna biru. Direktur Agrobisnis lapor, “bos” petani tidak mau lagi bertanam padi, kedelai, jagung dan sayur-sayuran karena harga dasarnya tidak stabil. “Bos” seperti biasa tetap kalem memberi petunjuk, impor semua kebutuhan-kebutuhan itu, dan bebaskan pajak bea masuk, beres toh…!
Berikutnya Direktur Human Resource Development & General Affair (HRD & GA) lapor, “bos” pengangguran sudah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan, dana pelatihan (pendidikan) sudah tidak memadai, sehingga upah minimum sudah sangat tidak seimbang dengan produktifitas karyawan, keamanan bertambah rawan, kejahatan meningkat, rampok tambah nekat, rakyat main hakim sendiri. Pencuri hasil produksi dibakar hidup-hidup, tawuran antar unit usaha makin sering. Bos dengan tenang kasih perintah, “tangkap saja pengganggu stabilitas keamanan tersebut, lakukan diam-diam, jangan sampai ketahuan kalau penagkapan itu melanggar HAM”. Kumpulkan semua pengangguran itu lalu kirim keluar negeri jadi TKI dan TKW, kita malah dapat devisa.
Suatu hari hampir semua karyawan dari berbagai unit datang menghadap dan mengajukan usul “Bos, bagaimana kalau tanah, laut dan udara beserta kekayaan yang tersimpan didalamnya dibagikan saja kepada kami dari pada investor asing. Insya Allah kami mampu menggarapnya, sehingga kalau lebaran nggak repot import. Bos tidak perlu lagi mikirin makan kami, selain itu kami juga yakin bisa menabung cukup besar sehingga bos tidak perlu pinjam dana dari luar negeri. Semua yang kami usulkan itu kan sesuai dengan pasal 33 Peraturan Perusahaan kita. Usulan ini langsung ditolak bos, “kalau sumber daya alam diserahkan kepada rakyat, saya tidak kebagian apa-apa. Kalau kepada investor asing, kan kebagian fee dan saham’, begitu pikir bos.
Para komisaris juga tidak kalah sengitnya. Ditempat terpisah para komisaris perusahaan sibuk membahas perubahan anggaran dasar dan peraturan-peraturan perusahaan. Targetnya menyelesaikan 3 peraturan :
- Peraturan yang membebaskan dosa-dosa mereka dimasa lalu.
- Peraturan yang memenangkan kelompoknya dalam pemilihan bos dimasa mendatang.
- Peraturan agar bisnis mereka banyak untung, lancar dan aman.
Begitulah PT. Tanah Surga beroperasi disaat-saat menjelang tutup (karena sudah bangkrut). Tidak ada upaya untuk meningkatkan produksi padi, jagung, kedelai, ikan atau daging. Bisanya hanya membuat utang, menuai aset-aset perusahaan, menaikkan harga barang-barang dan pajak serta mengharapkan belas kasihan investor asing. Tapi bos tetap menikmati coffee morning sambil disanjung dan dipijat-pijat punggung serta kakinya oleh para Direksi Perusahaan. Memang luar biasa perusahaan inI.
_________________________________________________
Era persaingan bebas sudah didepan mata. 2010, 2020. Itulah tahun-tahun penentuan nasib bisnis ANDA. Siapkah Anda menghadapinya? LAMBERT-Consult memandu Anda menyiapkan diri menghadapi globalisasi. Sejak hari ini! Bersama LAMBERT-Consult bisnis Anda siap memenangkan persaingan bebas.






Komentar»
No comments yet — be the first.